29/08/11

Jadi Ilmuwan Remaja yang Cinta Lingkungan? Siapa Takut!

Berbicara tentang seluk beluk remaja memang “gak ada habisnya”. Betapa tidak, kerap kali remaja menjadi topik hangat dalam perbincangan masyarakat dunia. Mulai dari segi positif sampai negatif. Sebut saja Akrit Pran Jaswal, seorang bocah dari India yang berhasil melakukan operasi bedah pertamanya pada usia 5 tahun, lalu menggapai gelar dokter pada usia 11 tahun. Akrit yang punya IQ 145 dan pernah tampil di Operah Winfrey Show ini, kini ingin mendedikasikan pengetahuannya untuk bidang kedokteran, khususnya kanker. Seperti yang dilaporkan Discovery Channel, Akrit sebenarnya sudah mempunyai formula untuk menyembuhkan kanker. Sayangnya baru di usia 17 tahun kelak dia bisa menunjukkan penemuannya itu. Namun ironisnya, dibalik itu tidak sedikit pula remaja yang masih sibuk menusukkan jarum suntik hanya demi “melayang” sesaat, sedangkan tanpa mereka sadari, hal itu sekaligus melayangkan masa depan mereka. Mengapa kedua fakta kontras tersebut dapat terjadi? Lagi-lagi kita harus mengakui peranan penting dari teknologi. Seorang remaja dapat mendapatkan nilai 10 pada ulangan hariannya dengan belajar melalui internet. Namun, bisa juga suatu saat ia bertransaksi narkoba melalui fasilitas jejaring sosial. Ini hanyalah segelintir fakta yang mencuat di masyarakat luas, dan mulai menjadi penyakit menular.
Kali ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi merupakan bagian dari hidup manusia. Mulai dari tuas pembuka tutup botol hingga tuas peluncur rudal, bisa dibilang dua teori serupa namun tak sama. Itulah teknologi. Satu ide sederhana dapat pula mengubah dunia. Teknologi memang layak dianalogikan sebagai pisau bermata dua. Disatu sisi dia bisa meringankan kerja manusia (definisi sederhana dari mesin), disisi lain bukan tidak mungkin justru merusak manusia beserta daerah diluar aspek yang diharapkan, dalam hal ini adalah lingkungan. Baru-baru ini, polemik tentang kerusakan lingkungan telah merebak di penjuru dunia. Mulai dari global warming, sampai eksploitasi sumber daya alam, seperti minyak bumi yang semakin mengkhawatirkan khalayak.

Jalan Peraduan

Setiap manusia berjalan dengan maksud
mereka bersuara
menyuarakan keseharian
yang timbul tenggelam
tergulung segala tekanan
dan meledak di peraduan
dengan hati yang berbeda,
dalam menyampaikan riuh kehidupan
hidup di peraduan,
bergelut ke penghabisan


tepi jalan, 30 Agustus 2011
11.14, hati yang baru,semoga,selalu