23/12/10
22/12/10
Resensi : Seberapa Tangkaskah Diri Kita?
Judul : Adversity Quotient : Turning Obstacles into
Opportunities
No. ISBN : 9796699702
Penulis : Paul G. Stoltz, PhD
Penerbit : PT Grasindo
Tahun terbit : 2000
Jumlah Halaman : 454
Berat Buku : 750 gram
Jenis Cover ; Soft Cover
Dimensi(L x P) : 140x200mm
Kategori : Psikologi
Adversity Quotient, merupakan suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang. Buku ini mengupas tuntas semua sudut permasalahan tentang level ketangkasan seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan.
Adversity Quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan, sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.
Resensi : Merajut Asa di 5 Menara
Judul : Negeri 5 Menara
No. ISBN : 9789792248616
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Agustus - 2009
Jumlah Halaman : 432
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 135x200mm
Kategori : Novel Fiksi, Terinspirasi Kisah Nyata
Novel ini berkisah tentang usaha enam orang santri dari sebuah pondok pesantren dalam menghidupkan mimpi-mimpi mereka. Meski menghadapi jadwal kegiatan yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) Alif tidak pernah Patah arang dalam mengukir mimpi mereka. Sampai akhirnya mereka menemukan tempat di bawah menara masjid PM, dimana mereka bisa memandang langit lepas yang mengingatkan mereka akan betapa besarnya Allah. Lalu di tempat itulah mereka membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Dan juga di tempat itulah mereka mendapat julukan sahibul menara.Sebuah julukan yang sederhana, namun indah.
Resensi : Indonesia Adalah Atlantis!
Judul : ATLANTIS : The Lost Continent Finally Found
No. ISBN : 9786028224628
Penulis : Prof. Arysio Santos
Penerbit : Ufuk Press
Tahun terbit : 2009
Jumlah Halaman : 684
Berat Buku : 900 gram
Jenis Cover ; Soft Cover
Dimensi(L x P) : 150x230mm
Kategori : Sejarah Dunia, nonfiksi
“Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi.”
—Plato (Filosof Terbesar Yunani)
Tentu kita pernah membaca pendapat Plato diatas dalam berbagai sumber.Namun, pernahkah terbetik dalam pikiran Anda bahwa negeri yang kita diami saat ini sangat mungkin dulunya sebuah kekaisaran dunia yang menjadi sumber segala peradaban besar, yaitu Atlantis? Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan menemukan bukti-bukti yang meyakinkan, Prof. Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Ciri-ciri Atlantis yang dicatat Plato dalam dua dialognya berjudul Timaeus dan Critias, secara mengejutkan, sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia.
04/12/10
Artikel : Menulis, Merajut Mimpi Untuk Negeri
Tidak bisa kita pungkiri lagi, menulis memang merupakan suatu fenomena yang tidak pernah kehabisan daya tarik untuk ditelisik. Menulis dapat dijadikan suatu dasar dari pembentukan karakter orientasi sekaligus indikator baik atau buruknya kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa. Namun, asumsi yang beredar di sebagian masyarakat mencerminkan secara gamblang bahwa menulis masih menjadi suatu aspek pembangunan yang dikesampingkan di negeri ini. Hal tersebut semakin diperkuat dengan pandangan masyarakat yang cenderung menganggap menulis adalah hal yang sulit dan hanya akan menelan banyak waktu, dibalik esensi dasar yang sesungguhnya sangat mencerminkan suatu kesederhanaan. Karena sejatinya, menulis merupakan suatu representasi dari pembebasan ide dan pikiran dalam hati dan otak kita. Apabila ide dan pemikiran tersebut dibiarkan menjamur, maka secara tidak sadar kita akan menjelma menjadi seseorang yang tidak peduli dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang sebenarnya menjadi hak azasi dari jiwa kita, yaitu media pencurahan.
Inilah Kami, Indonesia
Kami, tak hanya satu, tapi beribu
Tetap berbaris, dari ujung ke ujung
Meski beradu di segala penjuru
Kami menatap itu satu
Temaram cahaya di timur
Binar di Barat,
Remang di antaranya.
Untuk Guru
Sebuah memoar yang tak pernah pupus
Ada,
Insan luar biasa
Merajut kasih di keseharian
Mendulang ilmu di peraduan
Disaksikan Awan..,
Memoar itu merasuk
Berpilin, dan memutarkan
Cinta yang mengikat dua hati
Kemudian ilmu mengalir, terselip
Di antaranya
Lalu berpadu -menari-
Terus begitu
Sampai awan kembali bersaksi
Ilmu mengantarnya damai
Dalam peraduan.
Indah, Ilmu itu indah sekali, Guru
Akan kukejar
Kukejar
Kukejar!
Terimakasih, guru
Terimakasih
Aku sayang guru...
Langganan:
Postingan (Atom)


