Judul : ATLANTIS : The Lost Continent Finally Found
No. ISBN : 9786028224628
Penulis : Prof. Arysio Santos
Penerbit : Ufuk Press
Tahun terbit : 2009
Jumlah Halaman : 684
Berat Buku : 900 gram
Jenis Cover ; Soft Cover
Dimensi(L x P) : 150x230mm
Kategori : Sejarah Dunia, nonfiksi
“Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi.”
—Plato (Filosof Terbesar Yunani)
Tentu kita pernah membaca pendapat Plato diatas dalam berbagai sumber.Namun, pernahkah terbetik dalam pikiran Anda bahwa negeri yang kita diami saat ini sangat mungkin dulunya sebuah kekaisaran dunia yang menjadi sumber segala peradaban besar, yaitu Atlantis? Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan menemukan bukti-bukti yang meyakinkan, Prof. Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Ciri-ciri Atlantis yang dicatat Plato dalam dua dialognya berjudul Timaeus dan Critias, secara mengejutkan, sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia.
Buku ini membeberkan konteks bahasan yang sangat luas, yaitu mengenai keberadaan Benua Surga hingga kini terus menjadi misteri sejak filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu mengemukakan adanya sebuah benua “ Surga” yang bernama Atlantis dalam dua dialognya, “Timaeus” dan “Critias”. Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis. Hal ini memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis, pengamat sejarah, serta Arkeolog klasik dan modern. Bahkan, Perdebatan tersebut kemudian berujung pada semakin kaburnya fakta mengenai keberadaan Atlantis. Banyak tempat yang secara pribadi mereka sebut sebagai Atlantis, antara lain Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.
Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah banyak tesis ilmuan lain, dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.
Kesimpulan Prof. Santos yang membongkar pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization”.
Dalam buku tersebut, Prof. Santos mengemukakan bahwa Atlantis adalah negeri tropis berlimpah mineral dan kekayaan hayati. Namun, “Surga Dunia” itu lenyap, tersapu bencana mahabesar yang memisahkan Jawa dari Sumatra, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah Nusantara. Gunung Berapi Krakatau menjadi sumber bencana global tersebut (diperkirakan terjadi 11.600 tahun yang lalu). Ia meletus, menimbulkan rentetan gempa dan tsunami mahadahsyat, seratus kali lebih besar dari bencana Aceh 2004, yang pada puncaknya mengakhiri Zaman Es. Beberapa kitab suci menyebut bencana itu sebagai Banjir Semesta. Prof. Santos juga mengungkap fakta bahwa:
• Atlantis adalah tempat ilmu dan penemuan besar manusia muncul kali pertama (budaya bercocok tanam, bahasa, metalurgi, astronomi, seni, dll.).
• Peradaban-peradaban sesudahnya (Yunani, Mesir, Maya, Aztec, Inca, dll.) sesungguhnya dibangun oleh bangsa Indonesia, yang mengungsi dari bencana, dan mewariskan pengetahuannya ke negeri baru mereka; sehingga ada banyak persamaan budaya dan arsitektur di setiap peradaban (teori difusi budaya).
Pada dasarnya, buku ini memiliki sisi menarik yang sangat empuk untuk dibaca. Dalam taraf mengungkap fenomena yang sangat besar, Prof. Santos berhasil membuat buku ini enak dibaca, meski dengan pengungkapan fakta secara teoritis dan sistematis, namun penyampaiannya cukup untuk membuat kita berdecak kagum. Itulah mengapa buku ini dapat dikategorikan dalam buku “Bergizi”.
Namun,dibalik kemahirannya dalam mengungkap fakta mengenai seluk beluk misteri Atlantis, Prof. Santos masih nampak gugup dalam menyampaikan bahwa Atlantis berada di Indonesia dan hancurnya Atlantis disebabkan oleh letusan Gunung Karakatau. Hal itu dikarenakan dalam bukunya, Prof. Santos telah lebih dari 20 kali menuliskan pernyataan di atas. Tak ayal, makin dalam kita membaca, peryataan tersebut makin menyerupai basa-basi semata. Selain itu, betapa komplit dan berbobotnya buku ini, namun patut disayangkan karena Prof. Santos sendiri ternyata belum pernah melakukan ekspedisi dan penelitian secara langsung di Indonesia. Hal ini dikarenakan setelah Prof. Santos melakukan studi dan penyusunan buku hingga membutuhkan waktu selama 30 tahun untuk menyampaikannya dihadapan kita semua, beliau meninggal dunia hanya 2 minggu setelah penerbitan perdana buku ini. Padahal, beliau telah dalam tahap penggalangan dana untuk ekspedisi ke Indonesia.
Disamping semua keganjilan di atas, apresiasi yang sangat tinggi sepatutnya kita berikan terhadap Prof. Santos. Bukan karena beliau memilih Indonesia sebagai lokasi Atlantis, namun karena dedikasinya terhadap dunia penelitian yang ia geluti dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah dalam upaya mengungkap apa yang kita sebut dengan Ilmu Pengetahuan.
Terlepas dari benar tidaknya pernyataan Prof. Santos tentang Indonesia yang dulunya merupakan Atlantis, kita juga dapat memetik satu pelajaran lagi. Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai penduduk wilayah yang dulunya merupakan “Pusat Peradaban Dunia”? Temukan jawabannya di dalam buku ini, dan di dalam hati kita masing-masing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar