Tidak bisa kita pungkiri lagi, menulis memang merupakan suatu fenomena yang tidak pernah kehabisan daya tarik untuk ditelisik. Menulis dapat dijadikan suatu dasar dari pembentukan karakter orientasi sekaligus indikator baik atau buruknya kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa. Namun, asumsi yang beredar di sebagian masyarakat mencerminkan secara gamblang bahwa menulis masih menjadi suatu aspek pembangunan yang dikesampingkan di negeri ini. Hal tersebut semakin diperkuat dengan pandangan masyarakat yang cenderung menganggap menulis adalah hal yang sulit dan hanya akan menelan banyak waktu, dibalik esensi dasar yang sesungguhnya sangat mencerminkan suatu kesederhanaan. Karena sejatinya, menulis merupakan suatu representasi dari pembebasan ide dan pikiran dalam hati dan otak kita. Apabila ide dan pemikiran tersebut dibiarkan menjamur, maka secara tidak sadar kita akan menjelma menjadi seseorang yang tidak peduli dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang sebenarnya menjadi hak azasi dari jiwa kita, yaitu media pencurahan.
Memang bukan merupakan suatu perkara mudah apabila kita ingin menumbuhkembangkan budaya menulis di semua lapisan masyarakat demi menyalurkan ide dan pemikiran setiap individu dalam media yang lebih positif daripada sekadar demonstrasi, terorisme, maupun segala macam bentuk penyaluran gejolak jiwa yang pekat akan anarkisme. Namun, untuk mencapai suatu perubahan positif memang diperlukan tindakan nyata sebagai bentuk dari tindak lanjut sebuah harapan. Antara lain dengan memperdalam pemahaman mengenai hakikat dan permasalahan-permasalahan yang timbul dalam hiruk pikuk dunia tulis menulis, serta solusi sebagai wujud kepekaan emosi.
Pemahaman sangat erat kaitannya dengan sebab dan akibat. Menulis bukan merupakan sesuatu yang bisa ada dengan sendirinya. Hasil tulisan pun memiliki kemajemukan kualitas masing-masing. Maka dari itu, pemahaman terhadap berbagai macam faktor dalam menulis merupakan hal yang sangat penting bagi semua lapisan masyarakat, sebagai langkah awal menuju Indonesia dengan peradaban baru yang lebih berkualitas.
Faktor-faktor yang sangat erat dengan menulis, dan sekaligus memiliki andil besar untuk mempengaruhi isi tulisan disini saya bagi menjadi dua, yaitu faktor teknis dan psikologis. Faktor teknis mempunyai banyak sekali subfaktor seperti penggunaan majas, perbandingan, diksi, ejaan, pemenggalan kata, dll. Memang, apabila seorang penulis secara teliti memperhatikan dan menerapkan faktor teknis tersebut, maka hasilnya akan terlihat indah dan penuh konotasi. Namun, belum tentu suatu keindahan dalam tulisan yang dipandang secara kasat mata itu benar-benar merupakan jenis tulisan yang dibutuhkan Indonesia pada saat ini. Apabila sang penulis hanya berorientasi pada faktor teknis tersebut, maka apa yang ia tuliskan itu tak ubahnya seperti tulisan robot. Tulisan robot yang sama sekali tidak mempunyai makna untuk disampaikan kepada pembacanya. Padahal, manusia dengan robot sangatlah berbeda. Manusia menulis bukan karena suatu program yang dirancang dalam dirinya, bukan pula karena memori sistematis yang dalam chip di otak palsunya. Akan tetapi, manusia menulis dengan tekad yang meresap dalam apa yang dituliskannya, dan mencuat sebagai semangat yang sangat besar, disini saya sebut dengan Big Bang Spirit.
Bukan suatu hal yang berlebihan apabila saya mengaitkan momentum ledakan besar tersebut dengan sebuah tulisan. Karena pada faktanya, sebuah tulisan memang bisa menjadi power tersendiri bagi pembacanya, maupun penulisnya sendiri. Bahkan sebagian besar orang menjadikan suatu tulisan entah itu novel, biografi, ataupun buku religi sebagai inspiratornya untuk menemukan sebuah titik balik dalam hidupnya. Titik balik yang saya maksudkan disini adalah titik balik untuk mengubah haluan orientasi kehidupannya.
Jika bicara mengenai contoh, banyak sekali contoh yang dapat kita ambil, salah satunya seperti yang telah diulas secara khusus dalam program talkshow pada sebuah stasiun televisi. Pada segmen itu, topik yang dibahas adalah mengenai seorang mahasiswa yang dulunya pecandu narkoba, namun setelah secara kebetulan membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, lantas ia memilih untuk memperbaiki hidupnya dengan menjalani rehabilitasi serta menyelesaikan skripsinya yang telah tertunda selama bertahun-tahun. Ibu dari mahasiswa itu, yang juga diwawancarai secara khusus, mengaku sangat terharu bercampur bangga saat melihat anaknya menitikkan air mata setelah membaca novel itu, kemudian meminta maaf kepada ibunya sembari menyampaikan niatnya untuk memperbaiki jalan hidupnya. Itulah salah satu cerminan yang membuktikan bahwa seseorang memiliki titik balik dan bukan tidak mungkin apabila titik balik itu didapat dari suatu hal yang pada dasarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu serangkaian huruf yang membentuk apa yang disebut dengan tulisan.
Mengacu dari hal itulah , dapat diambil suatu ketegasan bahwa selain faktor teknis, masih ada faktor lain yang justru lebih penting dan membutuhkan perhatian khusus untuk meningkatkan kualitas menulis di semua kalangan, tak terkecuali pada genesasi muda yaitu faktor psikologis. Pada dasarnya, faktor psikologis dalam menulis sendiri disini saya bagi menjadi beberapa subfaktor, yaitu percaya diri, mood stance, dan kemauan. Ketiga subfaktor tersebut merupakan dasar yang harus ditanamkan kepada setiap generasi sebagai aplikasi dari usaha yang memang harus kita lakukan demi masa depan yang lebih baik.
Subfaktor pertama yaitu percaya diri, adalah hal yang dapat menghasilkan efek luar biasa apabila benar-benar ditanamkan pada jiwa setiap penulis, karena percaya diri merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin memiliki pemikiran dinamis dalam menjalani kehidupannya. Tak terkecuali dalam hal menulis. Besar kecilnya kepercayaan diri bukan merupakan suatu suasana hati yang terbentuk hanya karena bayaknya pengalaman hidup yang mengacu pada kuantitas usia seperti asumsi salah kaprah masyarakat yang beredar selama ini. Memang, senioritas dan pengalaman dalam menulis akan membuat sang penulis memiliki kepercayaan diri tinggi. Namun, tingginya kepercayaan diri juga bisa menjadi bumerang bagi penulis itu sendiri. Contohnya, seorang penulis media lepas yang karyanya sudah sangat sering dimuat pada suatu media, akan cenderung tinggi hati dan menganggap bahwa media atau surat kabar itu selalu menanti-nanti hasil karyanya. Pada akhirnya, penulis gaek tersebut akan menulis tanpa memperhatikan kualitas dan mutu tulisanya seperti dahulu saat ia berusaha mati-matian dalam membuat suatu tulisan perdananya yang sangat ia idamkan untuk dapat dimuat di media cetak.
Itulah mengapa kepercayaan diri merupkan kebutuhan yang sangat vital bagi seorang penuis. Namun, hal tersebut juga harus diimbangai dengan kekuatan moral. Khususnya bagi generasi muda yang rata-rata masih sangat minim pengalaman dalam dunia menulis. Dengan ditanamkannya kepercayaan diri yang penuh dengan moralitas, bukan suatu hal yang mustahil jika suatu hari nanti usaha itu akan berbuah manis pada tercapainya masa depan bangsa yang lebih cerah. Itulah dasar dari mengapa saya menguatkan bahwa kepercayaan diri bukan semata suasana hati yang terbentuk karena sekadar pengalaman dalam hidup. Lebih dari itu, kepercayaan diri adalah suatu keyakinan positif terhadap diri sendiri yang ditunjang oleh motivasi internal maupun eksternal dan dapat memicu terjadinya big bang spirit yang diaplikasikan dalam tekad nyata. Hal seperti itulah yang selayaknya mulai ditanamkan pada diri setiap generasi muda agar senantiasa percaya pada kemampuannya bahwa ia pasti bisa menulis, karena menulis itu hal yang menyenangkan.
Subfaktor kedua yang dapat mempengaruhi kualitas seseorang dalam menulis adalah mood stance. Mood stance merupakan suasana hati seseorang yang bersifat temporer. Karena sifatnya yang temporer itulah, faktor ini sering menjadi sebuah masalah klasik bagi semua penulis pada umumnya entah itu bagi kalangan muda ataupun tua. Mood stance bagaikan pisau bermata dua. Kadang menguntungkan, tidak jarang pula akan menjadi sangat merugikan. Saat mood sedang buruk, otak setiap penulis akan mengalami kemacetan. Segala macam keluh kesah mengalir dengan sendiriya tanpa terbendung. Pada akhirnya, pekerjaan seseorang akan menjadi mudah terbengkelai. Bahkan lebih buruknya, hal ini bisa membuat seorang penulis menjadi mulai merasa bahwa ia ternyata tidak mempunyai bakat menulis. Sebaliknya, apabila seorang penulis sudah benar-benar menemukan great mood-nya, ia akan cenderung menulis out of the box. Lalu, setelah menulis ia akan menggelengkan kepalanya sambil berdecak kagum dan mengatakan bahwa ini ajaib! Kemampuan otak manusia dalam mengubah ide menjadi sebuah tulisan pada saat kondisi great mood itulah yang membuat karyanya menjadi seolah-olah mustahil. Berdasarkan penjabaran di atas, sudah jelas bahwa mood stance merupakan subfaktor yang tidak kalah penting.
Kini, masalahnya adalah bagaimana seorang penulis dapat menguasai dan mengatur moodnya sedemikian rupa agar tetap berada pada level maksimal? Tentu itu bukanlah suatu hal yang mudah. Apabila melihat dari sifat dasar mood stance yaitu temporer, maka mengatur mood merupakan tugas yang sangat kompleks, apalagi pada kalangan generasi muda. Karena pada dasarnya, generasi muda yang minim jam terbang dalam menulis masih cenderung memiliki ketetapan hati yang sangat labil. Dengan begitu, lengkaplah sudah tingkat kesulitan pada subfaktor ini. Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat dan kita tanamkan pada diri kita masing-masing. Yaitu di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kalimat itu sarat akan semangat pantang menyerah. Dan memang semangat pantang menyerah itulah yang menjadi kunci bagi setiap penulis untuk menguasai suasana hatinya. Tentu dalam menjalani semangat pantang menyerah, resiko utama yang harus kita hadapi adalah sakitnya saat kita terjatuh. Namun, berapa kalipun kita terjatuh, itu bukanlah sesuatu yang patut kita perhitungkan. Karena sesungguhnya yang harus kita perhitungkan adalah berapa kali kita dapat bangkit kembali. Ketetapan hati seperti itulah yang akan memberikan efek luar biasa bagi setiap penulis yang menanamkannya dalam pikiran dan hati untuk menguatkan kestabilan emosi, sehingga kelabilan mood tidak akan menjadi masalah yang berarti.
Subfaktor ketiga yang dapat mempengaruhi kualitas seseorang dalam menulis adalah kemauan. Kemauan merupakan dasar daripada semua subfaktor yang saya jabarkan di atas. Karena kemauan sarat akan ketetapan hati yang berakarkan keikhlasan. Apabila diibaratkan, kemauan bak sebatang pohon dengan keikhlasan sebagai akarnya. Semakin kokoh akarnya, semakin kokoh pula batangnya. Dan dengan segera, batang itu akan membentuk cabang dan ranting sebagai wujud kerja kerasnya, lalu daun mulai bermunculan sebagai bentuk kesabarannya, dan pada akhirnya, buah yang masak dengan cepat akan menjadi simbol kesuksesannya dalam merangkai kata-kata menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan hikmah yang luar biasa.
Berdasarkan penggambaran di atas, dapat kita yakini bahwa kemauan merupakan modal utama yang harus selalu dipegang teguh apabila kita ingin menggoreskan pena dan menjadikannya sesuatu yang memiliki arti kuat. Dengan menanamkan kemauan pada semua kalangan penulis entah itu pemula maupun senior, maka hal itu akan menjadi sebuah indikasi berkembangnya generasi emas di negara kita ini, dengan harapan semakin banyaknya tulisan-tulisan bergizi yang beredar luas di kalangan masyarakat dari generasi ke generasi. Tulisan yang bergizi bukanlah serangkaian kata yang berbelit-belit dan penuh dengan pencerminan intelektualitas sang penulis. Tulisan bergizi bukan pula tulisan yang secara tersirat mengatakan bahwa kamu bodoh, sedangkan aku lebih tahu banyak alias terkesan terlalu menggurui. Justru sebaliknya, bergizi yang saya maksud disini adalah dimana penulis mampu menuangkan apa yang dia maksud ke dalam tulisan yang santun, edukatif, sederhana, dan simpel, sehingga terjadi kontak batin komunikatif yang bisa dirasakan oleh pembaca. Itulah mengapa kita harus peduli terhadap dunia tulis menulis. Karena dengan berkembangnya kepedulian dan pemahaman kita bahwa menulis adalah hal yang sangat sederhana tetapi berdaya guna, maka dapat diyakini bahwa indonesia akan segera menempuh babak baru dimana secara universal, asa kita berlari demi mengejar mimpi untuk menjadi generasi cerdas dan mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar