22/12/10

Resensi : Seberapa Tangkaskah Diri Kita?


Judul                         : Adversity Quotient : Turning Obstacles into
                                  Opportunities
No. ISBN                  : 9796699702
Penulis                      : Paul G. Stoltz, PhD
Penerbit                     : PT Grasindo
Tahun terbit               : 2000
Jumlah Halaman          : 454
Berat Buku                : 750 gram
Jenis Cover                ; Soft Cover
Dimensi(L x P)           : 140x200mm
Kategori                    : Psikologi



Adversity Quotient, merupakan suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang. Buku ini mengupas tuntas semua sudut permasalahan tentang level ketangkasan seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan.
Adversity Quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan, sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.

Resensi : Merajut Asa di 5 Menara


Judul                         : Negeri 5 Menara
No. ISBN                  : 9789792248616
Penulis                      : A. Fuadi
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit             : Agustus - 2009
Jumlah Halaman          : 432
Jenis Cover                : Soft Cover
Dimensi(L x P)           : 135x200mm
Kategori                    : Novel Fiksi, Terinspirasi Kisah Nyata



Novel ini berkisah tentang usaha enam orang santri dari sebuah pondok pesantren dalam menghidupkan mimpi-mimpi mereka. Meski menghadapi jadwal kegiatan yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) Alif tidak pernah Patah arang dalam mengukir mimpi mereka. Sampai akhirnya mereka menemukan tempat di bawah menara masjid PM, dimana mereka bisa memandang langit lepas yang mengingatkan mereka akan betapa besarnya Allah. Lalu di tempat itulah mereka membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Dan juga di tempat itulah mereka mendapat julukan sahibul menara.Sebuah julukan yang sederhana, namun indah.

Resensi : Indonesia Adalah Atlantis!

Judul                         : ATLANTIS : The Lost Continent Finally Found 
No. ISBN                  : 9786028224628
Penulis                      : Prof. Arysio Santos
Penerbit                     : Ufuk Press
Tahun terbit               : 2009
Jumlah Halaman          : 684
Berat Buku                : 900 gram
Jenis Cover                ; Soft Cover
Dimensi(L x P)           : 150x230mm
Kategori                    : Sejarah Dunia, nonfiksi

“Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi.”
—Plato (Filosof Terbesar Yunani)

Tentu kita pernah membaca pendapat Plato diatas dalam berbagai sumber.Namun, pernahkah terbetik dalam pikiran Anda bahwa negeri yang kita diami saat ini sangat mungkin dulunya sebuah kekaisaran dunia yang menjadi sumber segala peradaban besar, yaitu Atlantis? Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan menemukan bukti-bukti yang meyakinkan, Prof. Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Ciri-ciri Atlantis yang dicatat Plato dalam dua dialognya berjudul Timaeus dan Critias, secara mengejutkan, sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia.

04/12/10

Artikel : Menulis, Merajut Mimpi Untuk Negeri



Tidak bisa kita pungkiri lagi, menulis memang merupakan suatu fenomena yang tidak pernah kehabisan daya tarik untuk ditelisik. Menulis dapat dijadikan suatu dasar dari pembentukan karakter orientasi sekaligus indikator baik atau buruknya kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa. Namun, asumsi yang beredar di sebagian masyarakat mencerminkan secara gamblang bahwa menulis masih menjadi suatu aspek pembangunan yang dikesampingkan di negeri ini. Hal tersebut semakin diperkuat dengan pandangan masyarakat yang cenderung menganggap menulis adalah hal yang sulit dan hanya akan menelan banyak waktu, dibalik esensi dasar yang sesungguhnya sangat mencerminkan suatu kesederhanaan. Karena sejatinya, menulis merupakan suatu representasi dari pembebasan ide dan pikiran dalam hati dan otak kita. Apabila ide dan pemikiran tersebut dibiarkan menjamur, maka secara tidak sadar kita akan menjelma menjadi seseorang yang tidak peduli dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang sebenarnya menjadi hak azasi dari jiwa kita, yaitu media pencurahan.

Inilah Kami, Indonesia



Kami, tak hanya satu, tapi beribu
Tetap berbaris, dari ujung ke ujung
Meski beradu di segala penjuru
Kami menatap itu satu
Temaram cahaya di timur
Binar di Barat,
Remang di antaranya.

Untuk Guru



Sebuah memoar yang tak pernah pupus
Ada,
Insan luar biasa
Merajut kasih di keseharian
Mendulang ilmu di peraduan
Disaksikan Awan..,

Memoar itu merasuk
Berpilin, dan memutarkan
Cinta yang mengikat dua hati
Kemudian ilmu mengalir, terselip
Di antaranya
Lalu berpadu -menari-
Terus begitu
Sampai awan kembali bersaksi
Ilmu mengantarnya damai
Dalam peraduan.
Indah, Ilmu itu indah sekali, Guru
Akan kukejar
Kukejar
Kukejar!
Terimakasih, guru
Terimakasih
Aku sayang guru...

Jalan-Jalan

28/11/10

Sajak 30 Desember

Masih jelas
Hari itu,
Bumi berselimut dengan kaku
Lalu sedikit melirik
Ke sudut dimana dia akan menyelimuti sebuah tubuh
dengan haru yang membiru
Masih jelas sekelebat langkah
Yang tertera di ukiran hati
Tak pernah usang
Meski ia di tengah iring-iringan
dan memejam habis sudah nafas
Bukan ia tanpa asa
Karena aku melihat senyum
Elok tersungging diantara mimpinya
yang pernah diucap,
dan pernah kudengar
Itu bukan alasan
Namun keinginan
Untuk mematri setiap detak kebersamaan
yang pernah ada
Dalam kebersamaan
Selamanya, Kawan...

Dum Spiro, Spero

Menang atau kalah dalam suatu pertandingan bukan harga mati dalam menentukan kapabilitas PEMENANG SEJATI...
Bagi jiwa-jiwa yang percaya akan adanya solusi di setiap problem kompleks kehidupan, PEMENANG SEJATI adalah seseorang yang selalu memiliki mindset "dum spiro spero" (Selama saya BERNAFAS saya BERHARAP). dan harapan-harapan itulah yang menyatu dengan kesadaran hati untuk memetik hikmah dari setiap kegagalan, untuk kembali menatap tantangan hidup yang akan datang dengan lebih baik...

22/11/10

MUDA

Ingin aku
Meski secuil
Untuk menelisik
Setangkai esensi

Ingin aku
Berdendang bersanding faham
Merajut harap, yang hanya berlari kecil
Di tengah temaram
Hendak ia meraup
secarik senyum
Lalu menyembah gulita
Berpasrah diri
Demi waktu penuh bual
Merasa kuat


Menipu Tuhan
Kita muda!
Sepintas penuh daya
Dengan senyum muslihat
dan tawa sarat hina
Beradu dengan indera
Melecehkan Negara!

Bagaimana ini?

Lelahkah berjuang?

Tidak, kawan,
Kita muda
Penuh mimpi
Yakinlah
Dengarkan hati
Ia berbisik
“Bawalah nurani
Tengadahkan diri
Hanya pada Illahi Rabbi”


Irsal, 3 oct ‘10, 10.37
Untuk pemuda di sudut-sudut dunia