22/12/10

Resensi : Merajut Asa di 5 Menara


Judul                         : Negeri 5 Menara
No. ISBN                  : 9789792248616
Penulis                      : A. Fuadi
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit             : Agustus - 2009
Jumlah Halaman          : 432
Jenis Cover                : Soft Cover
Dimensi(L x P)           : 135x200mm
Kategori                    : Novel Fiksi, Terinspirasi Kisah Nyata



Novel ini berkisah tentang usaha enam orang santri dari sebuah pondok pesantren dalam menghidupkan mimpi-mimpi mereka. Meski menghadapi jadwal kegiatan yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) Alif tidak pernah Patah arang dalam mengukir mimpi mereka. Sampai akhirnya mereka menemukan tempat di bawah menara masjid PM, dimana mereka bisa memandang langit lepas yang mengingatkan mereka akan betapa besarnya Allah. Lalu di tempat itulah mereka membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Dan juga di tempat itulah mereka mendapat julukan sahibul menara.Sebuah julukan yang sederhana, namun indah.


Dalam novel ini, A. Fuadi berhasil membuat cerita yang bernuansa sangat lokal dan mudah dinikmati, namun secara tidak terduga ia juga menyelipkan semangat-semangat mengglobal yang dikemas dengan apik. Selain itu, dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A. Fuadi berhasil menyajikan seluk-beluk dunia pesantren modern yang penuh dengan kejutan. Susah dan senang yang mewarnai kehidupan kaum santri, dengan luwes ia padukan dengan humor unik khas pesantren.
Lihatlah saat Alif berhasil bertemu dengan seorang gadis bernama Sarah yang tak lain dan tak bukan adalah putri salah satu gurunya di PM, yang konon menjadi bahan perbincangan seluruh PM di asrama, lapangan bola, bahkan saat mengantri kamar mandi. Dalam aksi yang disulut rasa penasaran akan betapa eloknya paras Sarah, Alif berdalih ingin mewawancarai gurunya tersebut untuk mengisi salah satu rubrik dalam majalah PM. Dan akhirnya Alif pun berhasil. Tak ayal, selama satu minggu, kabar Alif berhasil bertemu dengan Sarah pun menjadi topik pembicaraan utama seluruh penjuru PM.Bahkan tak hanya bertemu, Alif juga sempat berfoto bersama Sarah dan keluarganya. PM meledak, alif pun makin disegani.
Begitu pula siasat Dulmajid yang me mengaruhi ustad Torik agar mendapat izin nonton bareng final bulu tangkis di PM, sejak awal santri PM dilarang menonton TV. Namun, dengan pendekatan politik yang luar biasa, Dulmajid pun berusaha membujuk Ustad Toriq, ''Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya, kita tonton siaran langsung besok malam.''  Ustad Torik langsung takluk dan terjadilah peristiwa bersejarah: TV masuk PM
Namun, dibalik kesuksesan A. Fuadi dalam menghidupkan suasana pesantren modern yang sangat menyenagkan, kejanggalan masih dapat dijumpai menjelang akhir cerita. Karier dan profesi sahibul menara setelah lulus dari PM hanya diceritakan dengan sangat singkat, dan pada akhirnya hanya berujung dalam pertemuan di Trafalgar Square, London tanpa ada kisah pendahuluan yang memuaskan. Meski ending ceritanya kurang menggigit, tetapi pengembangan imajinasi kisah para santri luar biasa tersebut telah berhasil menyegarkan semangat generasi muda untuk menggantungkan asa mereka setinggi mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar