Berbicara tentang seluk beluk remaja memang “gak ada habisnya”. Betapa tidak, kerap kali remaja menjadi topik hangat dalam perbincangan masyarakat dunia. Mulai dari segi positif sampai negatif. Sebut saja Akrit Pran Jaswal, seorang bocah dari India yang berhasil melakukan operasi bedah pertamanya pada usia 5 tahun, lalu menggapai gelar dokter pada usia 11 tahun. Akrit yang punya IQ 145 dan pernah tampil di Operah Winfrey Show ini, kini ingin mendedikasikan pengetahuannya untuk bidang kedokteran, khususnya kanker. Seperti yang dilaporkan Discovery Channel, Akrit sebenarnya sudah mempunyai formula untuk menyembuhkan kanker. Sayangnya baru di usia 17 tahun kelak dia bisa menunjukkan penemuannya itu. Namun ironisnya, dibalik itu tidak sedikit pula remaja yang masih sibuk menusukkan jarum suntik hanya demi “melayang” sesaat, sedangkan tanpa mereka sadari, hal itu sekaligus melayangkan masa depan mereka. Mengapa kedua fakta kontras tersebut dapat terjadi? Lagi-lagi kita harus mengakui peranan penting dari teknologi. Seorang remaja dapat mendapatkan nilai 10 pada ulangan hariannya dengan belajar melalui internet. Namun, bisa juga suatu saat ia bertransaksi narkoba melalui fasilitas jejaring sosial. Ini hanyalah segelintir fakta yang mencuat di masyarakat luas, dan mulai menjadi penyakit menular.
Kali ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi merupakan bagian dari hidup manusia. Mulai dari tuas pembuka tutup botol hingga tuas peluncur rudal, bisa dibilang dua teori serupa namun tak sama. Itulah teknologi. Satu ide sederhana dapat pula mengubah dunia. Teknologi memang layak dianalogikan sebagai pisau bermata dua. Disatu sisi dia bisa meringankan kerja manusia (definisi sederhana dari mesin), disisi lain bukan tidak mungkin justru merusak manusia beserta daerah diluar aspek yang diharapkan, dalam hal ini adalah lingkungan. Baru-baru ini, polemik tentang kerusakan lingkungan telah merebak di penjuru dunia. Mulai dari global warming, sampai eksploitasi sumber daya alam, seperti minyak bumi yang semakin mengkhawatirkan khalayak.
Memang, jika kita menelisik permasalahan yang mengaitkan antara lingkungan dengan teknologi, hasilnya adalah sama : teknologi selalu menjadi kambing hitam. Sudah menjadi rahasia umum tentunya, dan jika “dosa-dosa” teknologi berusaha dijabarkan, dapat dipastikan akan menghabiskan banyak waktu, bahkan nyaris tak berujung. Ditambah lagi jika dibahas secara generally, debat kusir pun kemungkinan besar terjadi di kalangan rakyat jelata, pejabat, pengusaha, hingga ilmuwan itu sendiri. Mengapa hal yang demikian besar kemungkinan dapat terjadi? Jika melihat dari aspek kepentingan, tentu aim pluralism atau kemajemukan tujuan baik individu maupun kelompok dapat ditunjuk secara mudah sebagai akar permasalahan. Seorang pengusaha pabrik tahu rumahan tentu akan berkelit jika ia dipaksa untuk mengolah kembali sisa pemrosesan produksi tahu secara baik, setelah bertahun-tahun sebelumnya hanya ia buang begitu saja di saluran air masyarakat dan mencemari sumur-sumur beberapa tetangganya. Hal ini adalah cermin dari penyimpangan upaya teknologi efektif-konvensional yang dapat mengakibatkan anak-anak menderita diare. Tentu bukan hal yang patut dicontoh. Namun itulah fakta keseharian yang sebenarnya dapat kita temukan disekitar rumah. Hanya kadang kita menutup mata dan telinga alih-alih untuk kembali menuding teknologi sebagai biang keladi atas rasa sepat di air minum kita.
Mengingat maraknya tudingan yang secara frontal diarahkan kepada teknologi, dan nampaknya telah semakin membudaya, tidak heran jika permasalahan ini telah layak disebut sebagai penyakit masyarakat yang baru. Meski sebenarnya telah muncul sejak lama. Bahkan dari hal-hal sederhana seperti kasus produsen tahu rumahan diatas. Namun, justru problem kecil seperti itulah yang akan menjadi bom waktu, dan siap meledakkan berbagai polemik besar lainnya. Bagaimana bisa? Mungkin sebagian besar dari kita telah mulai berpikir bagaimana cara mendamaikan teknologi dan lingkungan. Setelah itu bingung untuk memulainya dari sisi mana. Kondisi seperti ini biasanya muncul saat kita terlalu mengorientasikan otak kita dalam kerumitan seperti labirin. Mengapa tidak dimulai dari hal yang paling sederhana saja? Saking sederhananya, bahkan sebenarnya telah tertanam pada setiap manusia, yaitu pola pikir positif terhadap teknologi. Nah, sekarang mari kita memutar otak. Siapakah yang memiliki peranan terbesar untuk dibina pola pikirnya? Tentu saja para remaja. Tidak lain karena remaja memang harapan yang digadang-gadang mampu menciptakan pembaharuan positif di masa yang akan datang.
Kini kita telah meloncat menuju bagian yang penuh rangkaian kejadian. Karena disini pola pikir harus dibedah menjadi beberapa bagian, lalu mengambil salah satunya untuk dijadikan sebagai sampel. Tentu saja sampel yang mampu mewakili permasalahan secara menyeluruh. Jika kita mulai membedah pola pikir, maka kita akan menemukan salah satu sub-aspeknya yaitu ekspektasi. Hal inilah yang patut diangkat sebagai sampel. Karena ekspektasi menyangkut masa depan, yang notabene merupakan bahan utama untuk diolah. Ekspektasi dapat dianalogikan sebagai air dalam proses menanak nasi. Tanpa air, menanak nasi akan menjadi “cemilan renyah” yang menyedihkan. Tanpa ekspektasi, pola pikir juga akan menjadi tak tentu arah.
Saat remaja zaman dahulu masih berkutat dengan keinginan akan adanya alat yang bisa mengangkut banyak orang dengan cara terbang di udara, dan akhirnya hal itu berhasil menjadi kenyataan, kini makin hari ekspektasi dari remaja makin berkembang pesat. Bahkan dapat dibilang sangat mengejutkan. Berdasarkan sebuah artikel dalam situs , dikemukakan sebuah fakta yang diambil menurut sebuah penelitian terhadap 500 orang remaja dan 1030 orang dewasa yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) bekerjasama dengan Lemelson, terkuak sebuah fakta yang mengagumkan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ternyata ekspektasi teknologi di masa depan antara kaum remaja dan orang dewasa sangatlah berbeda. Penelitian ini dibagi menjadi beberapa aspek pembanding, antara lain dalam bidang otomotif, teknologi informasi, hingga permasalahan-permasalahan umum yang sering timbul dalam masyarakat.
Di bidang otomotif, sebanyak 33% remaja yang dijadikan sampel memiliki harapan dan prediksi bahwa di tahun 2015 nanti mobil dengan tenaga BBM sudah tak banyak lagi digunakan, sementara hanya 16% orang dewasa yang berpikiran seperti itu. Tentu saja harapan yang diutarakan remaja ini mulai memberikan angin segar ditengah sengketa antara teknologi dengan lingkungan yang semakin marak. Sedangkan di bidang teknologi informasi (TI), 22% remaja juga memprediksikan kalau 10 tahun lagi, komputer pribadi (PC) sudah menjadi barang yang tidak layak untuk terus menerus diandalkan. Anggapan itu hanya disetujui oleh 10% orang dewasa saja.
Namun, kaum dewasa tidak selamanya kalah. Sebanyak 45% orang dewasa memprediksi bahwa di tahun 2015, saluran telepon sudah tidak memerlukan kabel sama sekali, sementara hanya 17% remaja yang berpikir demikian. Meski ini hanyalah sebuah ekspektasi, namun jangan pernah anggap sepele. Karena masa depan yang baik akan dapat diraih setelah memiliki niat, tekad, dan tujuan. Sedangkan pangkal dari semua hal tersebut tidak lain adalah ekspektasi.Jika seorang remaja untuk berekspektasi saja sudah tidak mampu, coba bayangkan akan sampai kapan kita terus menerus “memaksa” minyak bumi untuk memenuhi mobilitas kehidupan manusia? Dan akan sampai kapan teknologi selalu menjadi kambing hitam atas rusaknya lingkungan? Ya, semua itu harus dimulai dari sini, saat remaja berani bermimpi untuk mengembangkan teknologi dengan tetap menjunjung tinggi kecintaan terhadap lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar