Judul :
Untuk Negaraku
No. ISBN : 979-416-744-4
Penulis :
Tono Suratman
Penerbit :
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Tahun terbit :
2002
Jumlah Halaman :
134
Berat Buku :
175 gram
Jenis Cover :
Soft Cover
Dimensi(L x P) :
125x200 mm
Kategori :
Nonfiksi
“Saya
harus mengambil jarak geografis yang sedemikian jauh dari semua hal yang pernah
saya tangani pada jarak yang sedemikian dekat. Katerharuan sudah pasti ada,
tapi tak banyak. Namun kesedihan?sedikitpun tak saya rasakan karena saya memang
tidak terlatih untuk ini.”
— Brigjen TNI Tono Suratman (Danrem Wiradharma,
Timor-Timur, pada masa krisis dan reformasi)
Buku
ini bisa disebut sebagai potret kesaksian dari penulis yang merupakan seorang
tentara yang terlibat secara langsung dalam kasus Timor-Timur. Dengan latar
belakang profesi yang cukup penting, yaitu sebagai petinggi TNI di Dili saat
polemik separatisme berkecambuk, Tono Suratman berhasil menyampaikan deretan
fakta-fakta penting yang dikemas dalam rangkaian cerita sistematis, padat, dan
tepat sasaran.
Diawali
dengan mengisahkan suasana hatinya secara mendetail saat mendapatkan amanah
untuk menjadi Danrem Wiradharma di Timor-Timur. Saat itu dia merasakan dua sisi
yang berbeda, yaitu antara bangga dan cemas yang cukup mendalam.
Saat
itu situasi di Timor-Timur masih sangat labil, dengan munculnya upaya gerakan
separatis dari sebagian warganya. Hal itu ditandai dengan munculnya dua kubu,
yaitu pro-integrasi dan pro-kemerdekaan. Meski konflik yang terjadi adalah
intern di Indonesia, namun Penulis mampu mencium adanya bau intervensi dari
pihak luar dalam bentuk provokasi, yang diulas lengkap dengan bukti-bukti
historisnya yang disajikan secara sistematis.
Kecurigaan
penulis berawal dari pemikiran mengenai latar belakang masyarakat Timor-Timur
yang notabene terbelakang, bahkan banyak yang buta aksara. Lalu mengapa
Timor-Timur bisa menjadi sorotan publik dunia? Diperkuat dengan
pemberitaan-pemberitaan hiperbol mengenai Tim Tim berkembang di penjuru dunia,
dapat disinyalir adanya pihak dengan maksud tertentu.
Dengan
fakta-fakta yang dijelaskan secara rinci dalam buku ini, penulis memahami salah
satu penyebab adanya intervensi dari pihak luar adalah adanya faktor persaingan
global. Negara berkembang seperti Indonesia yang kaya dalam hal ini ingin terus
tumbuh, sedangkan negara maju ingin Indonesia tetap statis, dengan predikat
sebagai negara berpenduduk melimpah yang konsumtif sehingga meringankan peta
persaingan khususnya dalam hal ekonomi.
Intervensi
dari pihak luar nampaknya berjalan sangat rapi. Pihak-pihak yang menjadi
provokator bergerak serempak, tanpa secara kasat mata, dengan mengendap-endap
membentuk semacam jaringan yang sepakat mengobarkan semangat separatis warga
Tim Tim melalui eksploitasi informasi ilegal, dan menyeludup ke kalangan
masyarakat itu sendiri.
Meski
hanya menjabat selama satu tahun sebagai Danrem, namun perjuangannya
mempertahankan kedaulatan RI di tanah “keras” mengalami banyak sekali rintangan
yang sangat intens dan padat.
Masa
perjuangannya yang dikisahkan pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu sebelum
reformasi, setelah reformasi (sebelum putusan referendum), dan setelah
referendum. Meski Penulis dipindahtugaskan sesaat sebelum referendum diadakan,
namun pengamatan menyeluruh masih ia lakukan untuk memantau perkembangan bekas
medan perjuangannya.
Saat
bertugas di Timo-Timur, Ia dan segenap TNI
memiliki tugas berat antara lain menanampak posisi dan sikap baru TNI,
memperbaiki prfesionalisme, serta menaikkan rasa kebersamaan dan rasa senasib
sepenanggungan dengan aparat dan instansi pemerintah lainnya.
Tugas
demi tugas ia laksanakan. Karena situasi yang labil, ia menyadari bahwa TNI di
wilayahnya sedang dalam masa yang sulit. Mereka harus menjaga kedaulatan
meredam kerusuhan massal warga tanpa menggunakan kekerasan sedikitpun kecuali
sebagai pilihan terakhir dan sangat mendesak, hingga keharusan TNI menjadi
pihak yang netral saat pemerintah memberikan opsi DOK (Daerah Otonomi Khusus).
Cerita
perjuangan dalam novel ini diwarnai dengan pertumpahan darah para prajurit TNI
yang disiksa oleh pihak pro-kemerdekaan, hingga adegan dramatis penyelamatan
tamu utusan dari luar negeri saat nyaris terjebak dalam hadangan kerusuhan
warga.
Satuan
TNI dan POLRI sebenarnya sudah ‘nyaris’ berhasil mendamaikan kedua kubu
pro-intergasi dan pro-kemerdekaan melalui pendekatan sosialisasi dan kegiatan
kemanusiaan secara bertahap, berkala, dan tepat sasaran. Bahkan kesepakatan damai
antara kedua belah pihak sudah bisa dibilang tersepakati. Namun semua itu
seakan hilang, saat keputusan kontroversial pemberian opsi referendum kepada
Timor-Timur. Suasana kembali memanas. Dan lagi-lagi, penulis berhasil
menujukkan fakta keterlibatan pihak dari luar negeri yang membuat Presiden
Habibie memberikan kebijakan demikian.
Perjalanan
Brigjen TNI Tono Suratman memperjuangkan Timor-Timur pun berakhir saat ia
dipindahtugaskan dari Timor-Timur ke Jakarta sesaat sebelum pelaksanaan jejak
pendapat otonomi atau merdeka, dengan alasan yang tidak jelas. Selain itu,
setelah dipindahtugaskan, Penulis justru dituduh melakukan pelanggaran HAM
dengan tuduhan menjadi otak dari beberapa insiden khususnya insiden Liquisa,
dan sempat diseret ke badan hukum Internasional. Padahal sudah sangat jelas
bahwa tuduhan itu sangat mengada-ada dan tanpa bukti yang kuat. Meski diserbu
tuduhan, Tono Suratman tetap memegang teguh pendirian dan kesetiaannya terhadap
hakikat sebagai prajurit sejati.
Dalam
buku ini, sepintas seperti ulasan yang spesifik. Namun nyatanya, buku ini
mencampurkan beberapa aspek penulisan mulai dari sejarah, ulasan fakta, diary,
ataupun otobiografi. Hal itulah yang cukup membingungkan, karena terkadang
pembaca diajak melompat-lompat dari empat jenis penulisan tersebut.
Dibalik
semua itu, Tono Suratman telah menuliskan sesuatu yang luar biasa. Meski
pendidikan dasarnya adalah kemiliteran, dan bukan kesusastraan, namun
penyampaian yang dicurahkan sangatlah cerdas. Pengetahuannya tentang detail
peristiwa lepasnya Timor-Timur membuat kita tahu banyak hal yang selama ini
masih belum terpublikasi.
Buku
Untuk Negaraku ini sarat akan nilai-nilai perjuangan, upaya pantang menyerah,
dan pembelajaran tentang kepemimpinan di tengah badai krisis. Penggunaan bahasa
yang lugas dan mendalam membuat buku ini layak untuk dijadikan cermin bagi diri
kita masing masing. Sudah seberapa besar pengorbanan yang kita upayakan untuk
mengarahkan sejarah bangsa ini ke arah yang lebih baik? Seberapa banyak hak-hak
yang selalu kita tuntut atas negara ini tanpa kita mempedulikan kewajiban? Diri
kita lah yang harus mencari dan mengamalkan jawabannya, lalu menanyakan hal
yang sama kepada anak cucu kita kelak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar