08/12/11

Mencermati Setan



 Judul                              : Tarian Setan
No. ISBN                      : 979-3684-67-4
Penulis                           : Saddam Hussein
Penerbit                         : Jalasutra
Tahun terbit                   : 2006
Jumlah Halaman            : 284
Berat Buku                    : 250 gram
Jenis Cover                    : Soft Cover
Dimensi(L x P)              : 100x180 mm
Kategori                         : Novel, fiksi

“Saddam sedang sibuk menulis novel saat pasukan koalisi internasional bersiap menggempur Irak..”
—Tariq Aziz (Deputi Perdana Menteri Irak, era Saddam Hussein)

Kontroversial. Itulah satu kata yang setidaknya cukup untuk dijadikan pembuka dalam memberikan penjelasan sepintas mengenai novel ini. Novel ini adalah novel ke  4 dari Saddam Hussein yang saat itu menjabat sebagai presiden Irak. Entah apa motifnya, Saddam telah membuat suatu karya yang membuat khalayak heran. Bagaimana bisa seorang presiden yang memimpin memimpin sebuah negara penuh konfik seperti Irak bisa memiliki waktu untuk menulis 4 buah novel? Pertanyaan tersebut seringkali muncul di berbagai lapisan masyarakat yang pernah mengetahui, atau mengikuti kiprah Saddam di dunia sastra.

 
Dilihat dari sisi historisnya, hadirnya novel ini di tangan pembaca memiliki kisah unik.  Pada tanggal 18 Maret 2003, beberapa saat sebelum tentara Amerika memborbardir Irak, novel ini telah selesai ia tulis dan siap diterbitkan. Karena situasi dan kondisi keamanan yang tidak memungkinkan, akhirnya Raghdad Hussein, putri sulung dari Saddam, melarikan naskah novel itu ke Yordania untuk diterbitkan. Hingga sekarang, novel yang berjudul Akhrej Minha Ya Mal’un (Tarian Setan-arti harfiah : Pergilah, Laknat!) ini telah tersebar di berbagai negara dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Novel ini menjadi bahan penelitian banyak pihak, mulai dari Mossad, CIA, dan M16. Mungkin mereka merasa penasaran, atau bahkan curiga terhadap isi dari novel ini. Karena mereka menyadari bahwa salah satu cara bagi seseorang untuk mengabadikan ide serta pemikiran-pemikirannya adalah melalui tulisan. Teknik seperti itu disinyalir menjadi salah satu jalan yang ditempuh Saddam untuk menyebarkan dan mengabadikan pola pikirnya.
Novel Tarian setan mengambil latar belakang kehidupan di masa kuno, yaitu sekitar 1500 tahun yang lalu. Dimana suku-suku masih kental dan erat dengan tradisinya masing-masing. Tokoh utama dalam novel ini bernama Hasqil. Hasqil memiliki dua saudara sepupu, yaitu Yusuf dan Mahmud. Mereka bertiga adalah anak yatim piatu. Ayah dan ibu mereka masing-masing meninggal dalam kerusuhan dan peperangan yang merebak di Timur Tengah. Kini mereka diasuh oleh kakek dan nenek mereka, yaitu Ibrahim dan Halimah. Pada awalnya, mereka hidup dalam kedamaian. Ibrahim adalah seorang pemuka agama yang berilmu tinggi. Cinta dan semangat perjuangannya dalam membela agama Islam coba ia tularkan kepada ke tiga cucunya.
Saat beranjak dewasa, Yusuf dan Mahmud tumbuh menjadi pemuda yang sholeh dan ingin memperjuangkan ilmunya. Mereka rela berpisah, dan berhijrah ke negara-negara lain untuk menyebarkan ilmu agama Islam. Lain hal dengan dengan kedua saudaranya, Hasqil justru tumbuh menjadi seorang pemuda yang berperangai sangat buruk. Berkali-kali ia membuat ulah di desa tempat ia tinggal. Suatu hari, Hasqil berbicara dengan kakeknya mengenai hidupnya. Dia menujukkan sikap yang tergila-gila terhadap emas (di masa itu, emas adalah barang yang paling berharga, dan belum banyak orang yang bisa mengolahnya dengan, meskipun ketersediaannya di alam masih sangat melimpah). Hasqil menyatakan tekadnya bahwa ia yang akan menentukan jalan hidupnya sendiri sebagai penggila harta. Kelakuan Hasqil di desanya semakin tidak terkendali. Akhirnya, dia diusir oleh Ibrahim setelah mengakui bahwa dirinya melakukan percobaan pemerkosaan terhadap anak kepala suku.
Hasqil terus mengembara hingga ia sampai di suku al-Mudhtharrah. Di tempat itu, ia mengembangkan kemampuannya dalam mengolah emas menjadi perhiasan-perhiasan. Selain emas, ia juga membuat baju zirah, serta peralatan-peralatan perang dari bahan baku logam yang lain. Kegilaan Hasqil semakin menjadi. Ia memprovokasi beberapa suku, hingga akhirnya mereka rajin berperang, dan peralatan perang yang dijual Hasqil pun laku keras.
Seolah diri Hasqil juga adalah setan, ia merancang strategi sedemikian rupa, hingga ia berhasil menggulingkan kepemimpinan kepala suku al-Mudhtharrah, dan merebut posisi tersebut secara licik. Dia meyakinkan kepala suku untuk berperang dengan suku yang lebih kuat, yaitu al-Mukhtarah, hingga menyebabkan pasukan al-Mudhtharrah kalah total, dan nama kepala suku menjadi tercoreng. Selain itu, saat kepala suku berperang, Hasqil justru merayu dan merebut isteri dari kepala suku hingga mereka menjalani hubungan gelap. Setelah berhasil dalam kudeta, ia semakin berulah dengan menyalahgunakan kepemimpinannya. Hasqil menjalin kerjasama dengan bangsa Romawi, menindas rakyatnya, membanagun menara kembar sebagai mumbung harta, dan mengabaikan isteri dari kepala suku yang bernama Ummu Lazzah. Padahal, dia telah berjanji untuk memperistri Ummu Lazzah jika kudetanya berhasil. Namun, justru Hasqil kini menggoda Lazzah, putri dari Ummu Lazzah.
Karena muak dengan kebengisan Hasqil, Nakhwah (nama baru Lazzah setelah dia dewasa) melakukan perencanaan pemberontakan bersama dengan kekasih hatinya, yaitu Abu Salim, dan seluruh rakyat suku sl-Mudhtharrah yang mencekal kepemimpinan hasqil. Meski telah mendapat cekalan dari rakyatnya, Hasqil tetap saja melakukan tindakan yang jauh dari unsur kemanusiaan. Dia membunuh Ummu Lazzah secara terencana dan terskenario. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk bisa melepaskan diri dari tanggung jawab, dan mendapatkan hati Nakhwah.
Meski tersusun rapi, Nakhwah dan Abu Salim bisa mencium adanya unsur pembunuhan oleh Hasqil kepada Ummu Lazzah. Momen itulah yang memacu Nakhwah dan warga kontra Hasqil untuk melakukan penyerangan secepat mungkin. Hasqil mengetahui gerak gerik penyerangan mereka. Kedua kubu menyusun strategi, dan akhirnnya peperangan dalam satu suku pun tak terhindarkan. Pasukan Nakhwah dan Abu Salim berhasil memenangkan peperangan tersebut. Mereka merubuhkan sisa-sisa kepemimpinan Hasqil, termasuk menara kembar tempat penimbunan harta Hasqil. Hasqil kehilangan semuanya. Meski tidak tebunuh, Hasqil kini tidak memiliki apa-apa. Dia keluar dari sukunya, dan tongkat kepemimpinan suku berada di tangan Abu Salim setelah dia secara resmi mempersunting Nakhwah.
Pada dasarnya, novel Tarian Setan ini memang kental akan nilai historis. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam novel ini tatanan ceritanya masih cukup jauh dari kata memuaskan. Alur cerita yang terlalu monoton dan mudah ditebak, membuat pembaca cenderung merasa bosan. Selain itu, dalam novel ini terlalu banyak percakapan yang tidak efektif, karena banyak sekali nasihat-nasihat agama yang disampaikan secara frontal sehingga gagal dalam memperkaya cerita. Penggambaran latar dan perwatakan juga sangat menggantung.
Uniknya, meski banyak pihak yang menyesalkan isi novel karya Saddam Hussein ini, tidak sedikit pula pihak-pihak yang mengutarakan bahwa ada maksud tersirat dalam novel ini. Memang, jika diperhatikan, ada salah satu sisi dari novel ini yang janggal. Yaitu watak dari Hasqil. Di dalam cerita, Hasqil memiliki pola pikir yang aneh. Dia berperangai sangat buruk, meski ia berada di lingkungan yang sangat baik. Hal itu semacam “sifat mendasar” yang sulit dipahami. Tingkah lakunya seolah dia adalah setan, namun dia mampu membenarkan sikapnya seolah dia juga sangat tahu bagaimana cara menjadi orang baik, sebailknya dia juga sangat mahir dalam menguasai keburukan, “dan lebih memilih untuk menjadi orang jahat, serta bangga akan kejahatannya”. Penggambaran watak yang demikian sangatlah kompleks, hanya bisa ditangkap sebagian pembaca, dan jarang ditemukan dalam cerita yang lain.
Selain keunikan-keunikan di atas, dibalik semua kekurangan dalam novel Tarian Setan ini, bagaimanapun kita harus tahu siapa Saddam Hussein. Dia bukanlah sastrawan. Itulah yang menyebabkan tulisannya aneh, miskin keeksotisan diksi dan pengimajinasian suasana, bahkan terkadang memiliki kesan kaku. Namun, justru hal itulah yang membuat novel ini unik. Intisari dari kisah yang masih sulit dicerna membuat banyak pihak yang bersimpati ataupun antipati terhadap Saddam menjadi terprovokasi untuk membaca dan menelaah novel ini. Apakah anda salah satunya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar