Judul :
Tarian Setan
No. ISBN :
979-3684-67-4
Penulis :
Saddam Hussein
Penerbit :
Jalasutra
Tahun terbit :
2006
Jumlah Halaman :
284
Berat Buku :
250 gram
Jenis Cover :
Soft Cover
Dimensi(L x P) :
100x180 mm
Kategori :
Novel, fiksi
“Saddam
sedang sibuk menulis novel saat pasukan koalisi internasional bersiap
menggempur Irak..”
—Tariq Aziz (Deputi Perdana Menteri Irak, era Saddam
Hussein)
Kontroversial.
Itulah satu kata yang setidaknya cukup untuk dijadikan pembuka dalam memberikan
penjelasan sepintas mengenai novel ini. Novel ini adalah novel ke 4 dari Saddam Hussein yang saat itu menjabat
sebagai presiden Irak. Entah apa motifnya, Saddam telah membuat suatu karya
yang membuat khalayak heran. Bagaimana bisa seorang presiden yang memimpin
memimpin sebuah negara penuh konfik seperti Irak bisa memiliki waktu untuk
menulis 4 buah novel? Pertanyaan tersebut seringkali muncul di berbagai lapisan
masyarakat yang pernah mengetahui, atau mengikuti kiprah Saddam di dunia
sastra.
Dilihat
dari sisi historisnya, hadirnya novel ini di tangan pembaca memiliki kisah
unik. Pada tanggal 18 Maret 2003,
beberapa saat sebelum tentara Amerika memborbardir Irak, novel ini telah
selesai ia tulis dan siap diterbitkan. Karena situasi dan kondisi keamanan yang
tidak memungkinkan, akhirnya Raghdad Hussein, putri sulung dari Saddam,
melarikan naskah novel itu ke Yordania untuk diterbitkan. Hingga sekarang,
novel yang berjudul Akhrej Minha Ya Mal’un (Tarian Setan-arti harfiah :
Pergilah, Laknat!) ini telah tersebar di berbagai negara dan telah diterjemahkan
dalam berbagai bahasa.
Novel
ini menjadi bahan penelitian banyak pihak, mulai dari Mossad, CIA, dan M16.
Mungkin mereka merasa penasaran, atau bahkan curiga terhadap isi dari novel
ini. Karena mereka menyadari bahwa salah satu cara bagi seseorang untuk
mengabadikan ide serta pemikiran-pemikirannya adalah melalui tulisan. Teknik
seperti itu disinyalir menjadi salah satu jalan yang ditempuh Saddam untuk
menyebarkan dan mengabadikan pola pikirnya.
Novel
Tarian setan mengambil latar belakang kehidupan di masa kuno, yaitu sekitar
1500 tahun yang lalu. Dimana suku-suku masih kental dan erat dengan tradisinya
masing-masing. Tokoh utama dalam novel ini bernama Hasqil. Hasqil memiliki dua
saudara sepupu, yaitu Yusuf dan Mahmud. Mereka bertiga adalah anak yatim piatu.
Ayah dan ibu mereka masing-masing meninggal dalam kerusuhan dan peperangan yang
merebak di Timur Tengah. Kini mereka diasuh oleh kakek dan nenek mereka, yaitu
Ibrahim dan Halimah. Pada awalnya, mereka hidup dalam kedamaian. Ibrahim adalah
seorang pemuka agama yang berilmu tinggi. Cinta dan semangat perjuangannya
dalam membela agama Islam coba ia tularkan kepada ke tiga cucunya.
Saat
beranjak dewasa, Yusuf dan Mahmud tumbuh menjadi pemuda yang sholeh dan ingin
memperjuangkan ilmunya. Mereka rela berpisah, dan berhijrah ke negara-negara
lain untuk menyebarkan ilmu agama Islam. Lain hal dengan dengan kedua
saudaranya, Hasqil justru tumbuh menjadi seorang pemuda yang berperangai sangat
buruk. Berkali-kali ia membuat ulah di desa tempat ia tinggal. Suatu hari,
Hasqil berbicara dengan kakeknya mengenai hidupnya. Dia menujukkan sikap yang
tergila-gila terhadap emas (di masa itu, emas adalah barang yang paling
berharga, dan belum banyak orang yang bisa mengolahnya dengan, meskipun
ketersediaannya di alam masih sangat melimpah). Hasqil menyatakan tekadnya
bahwa ia yang akan menentukan jalan hidupnya sendiri sebagai penggila harta.
Kelakuan Hasqil di desanya semakin tidak terkendali. Akhirnya, dia diusir oleh
Ibrahim setelah mengakui bahwa dirinya melakukan percobaan pemerkosaan terhadap
anak kepala suku.
Hasqil
terus mengembara hingga ia sampai di suku al-Mudhtharrah.
Di tempat itu, ia mengembangkan kemampuannya dalam mengolah emas menjadi
perhiasan-perhiasan. Selain emas, ia juga membuat baju zirah, serta peralatan-peralatan
perang dari bahan baku logam yang lain. Kegilaan Hasqil semakin menjadi. Ia
memprovokasi beberapa suku, hingga akhirnya mereka rajin berperang, dan
peralatan perang yang dijual Hasqil pun laku keras.
Seolah
diri Hasqil juga adalah setan, ia merancang strategi sedemikian rupa, hingga ia
berhasil menggulingkan kepemimpinan kepala suku al-Mudhtharrah, dan merebut posisi tersebut secara licik. Dia
meyakinkan kepala suku untuk berperang dengan suku yang lebih kuat, yaitu
al-Mukhtarah, hingga menyebabkan pasukan al-Mudhtharrah kalah total, dan nama
kepala suku menjadi tercoreng. Selain itu, saat kepala suku berperang, Hasqil
justru merayu dan merebut isteri dari kepala suku hingga mereka menjalani
hubungan gelap. Setelah berhasil dalam kudeta, ia semakin berulah dengan
menyalahgunakan kepemimpinannya. Hasqil menjalin kerjasama dengan bangsa
Romawi, menindas rakyatnya, membanagun menara kembar sebagai mumbung harta, dan
mengabaikan isteri dari kepala suku yang bernama Ummu Lazzah. Padahal, dia
telah berjanji untuk memperistri Ummu Lazzah jika kudetanya berhasil. Namun,
justru Hasqil kini menggoda Lazzah, putri dari Ummu Lazzah.
Karena
muak dengan kebengisan Hasqil, Nakhwah (nama baru Lazzah setelah dia dewasa)
melakukan perencanaan pemberontakan bersama dengan kekasih hatinya, yaitu Abu
Salim, dan seluruh rakyat suku sl-Mudhtharrah yang mencekal kepemimpinan
hasqil. Meski telah mendapat cekalan dari rakyatnya, Hasqil tetap saja
melakukan tindakan yang jauh dari unsur kemanusiaan. Dia membunuh Ummu Lazzah
secara terencana dan terskenario. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk bisa
melepaskan diri dari tanggung jawab, dan mendapatkan hati Nakhwah.
Meski
tersusun rapi, Nakhwah dan Abu Salim bisa mencium adanya unsur pembunuhan oleh
Hasqil kepada Ummu Lazzah. Momen itulah yang memacu Nakhwah dan warga kontra
Hasqil untuk melakukan penyerangan secepat mungkin. Hasqil mengetahui gerak
gerik penyerangan mereka. Kedua kubu menyusun strategi, dan akhirnnya
peperangan dalam satu suku pun tak terhindarkan. Pasukan Nakhwah dan Abu Salim
berhasil memenangkan peperangan tersebut. Mereka merubuhkan sisa-sisa
kepemimpinan Hasqil, termasuk menara kembar tempat penimbunan harta Hasqil.
Hasqil kehilangan semuanya. Meski tidak tebunuh, Hasqil kini tidak memiliki
apa-apa. Dia keluar dari sukunya, dan tongkat kepemimpinan suku berada di
tangan Abu Salim setelah dia secara resmi mempersunting Nakhwah.
Pada
dasarnya, novel Tarian Setan ini memang kental akan nilai historis. Akan
tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam novel ini tatanan ceritanya masih
cukup jauh dari kata memuaskan. Alur cerita yang terlalu monoton dan mudah
ditebak, membuat pembaca cenderung merasa bosan. Selain itu, dalam novel ini
terlalu banyak percakapan yang tidak efektif, karena banyak sekali
nasihat-nasihat agama yang disampaikan secara frontal sehingga gagal dalam memperkaya cerita. Penggambaran latar
dan perwatakan juga sangat menggantung.
Uniknya,
meski banyak pihak yang menyesalkan isi novel karya Saddam Hussein ini, tidak
sedikit pula pihak-pihak yang mengutarakan bahwa ada maksud tersirat dalam
novel ini. Memang, jika diperhatikan, ada salah satu sisi dari novel ini yang
janggal. Yaitu watak dari Hasqil. Di dalam cerita, Hasqil memiliki pola pikir
yang aneh. Dia berperangai sangat buruk, meski ia berada di lingkungan yang
sangat baik. Hal itu semacam “sifat mendasar” yang sulit dipahami. Tingkah
lakunya seolah dia adalah setan, namun dia mampu membenarkan sikapnya seolah
dia juga sangat tahu bagaimana cara menjadi orang baik, sebailknya dia juga
sangat mahir dalam menguasai keburukan, “dan lebih memilih untuk menjadi orang
jahat, serta bangga akan kejahatannya”. Penggambaran watak yang demikian
sangatlah kompleks, hanya bisa ditangkap sebagian pembaca, dan jarang ditemukan
dalam cerita yang lain.
Selain
keunikan-keunikan di atas, dibalik semua kekurangan dalam novel Tarian Setan
ini, bagaimanapun kita harus tahu siapa Saddam Hussein. Dia bukanlah sastrawan.
Itulah yang menyebabkan tulisannya aneh, miskin keeksotisan diksi dan
pengimajinasian suasana, bahkan terkadang memiliki kesan kaku. Namun, justru
hal itulah yang membuat novel ini unik. Intisari dari kisah yang masih sulit
dicerna membuat banyak pihak yang bersimpati ataupun antipati terhadap Saddam
menjadi terprovokasi untuk membaca dan menelaah novel ini. Apakah anda salah
satunya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar